Dewi Sri Dulu Rawa, Kini Pusat Kuliner Bali

DENPASAR (Koran86.news) –Di era 2000-an kawasanTeuku Umar, Denpasar, Bali, merupakan ikon kuliner Pulau Dewata. Cukup beken ketika itu. Bagi wisatawan domestik, ada anggapan, rasanya kurang lengkap jika berlibur di Bali tidak mampir di tempat itu dan mencicipi cita rasa kulinernya.

Sementara di Jl. Dewi Sri ketika itu, hanyalah sepotong jalan kecil yang menghubungkan antara Kuta dengan Denpasar. Bangunan yang berdiri hanya beberapa warung makan. Tempat istirahat pengendara yang melintas di jalan tersebut. Jumlahnya pun bisa dihitung dengan jari lantaran jarak dari satu warung ke lainnya cukup jauh.

Warga Bali menyebut Jl. Dewi Sri kawasan setan buang anak. Begitu sepi dan terkesan angker. Hamparan pemandangan yang terlihat hanyalah rawa dan alang-alang liar setinggi orang dewasa.

Seiring dengan perjalanan waktu, beberapa tahun belakangan ini, jalan itu berubah secara signifikan. Terlebih dengan lajunya pembangunan pariwisata di Bali pasca bom Bali II, jalan kecil sudah berubah menjadi daerah wisata yang hidup 24 jam.

Dulu, penghuninya cuma warung makan sederhana, di kanan-kirinya rawa serta ilalang liar. Tapi kini, di Jl Dewi Sri banyak berdiri megah bangunan hotel, toko-toko, wedding organizer, klub malam dan sarana hiburan malam lainnya.

“Berbagai fasilitas penunjang pariwisata ditawarkan di jalan ini. Misalnya, rumah makan dan restoran, mulai dari kelas kaki lima sampai mewah,” jelas Wayan, warga Jl Dewi Sri yang sehari-hari bekerja di salahsatu resto di tempat itu.

Dijelaskan, yang dulunya rawa-rawa, kini di atasnya telah berdiri tidak kurang dari 10 hotel, villa dan apartemen yang siap melayani para wisatawan. “Sekitar 80% tamu yang menginap di daerah saya adalah wisatawan domestik,” ungkapnya.

Begitu banyaknya wisatawan yang datang, dan bermalam di Jl Dewi Sri, semakin banyak pula orang membuka usaha kuliner. Baik bangunan secara permanen, maupun kaki lima dengan lesehannya.

Jenis makanan pun beraneka ragam, baik kuliner Indonesia maupun manca negara. Sekalipun kelasnya kaki lima, tapi cita rasanya tak kalah lezat dengan makanan hotel.

“Kulinernya internasional, tapi harga lokal. Pokoknya bersahabat buat dompet turis lokal. Mampir, Mas, cobain masakan kami,” kata Beli Nyoman kepada Jurnalis Koran86.news yang kebetulan melintas restonya.

Jalan tembus Dewi Sri kini semakin bergengsi saja setelah ditambah sebutan: Sunset Road Kuta. Porsinya pun berubah menjadi pusat kuliner yang nge-trend di Bali. Kawasan ini menjadi viral di banyak media sosial dan konvensional. Terutama foto-foto kawasannya, kerap di unggah para wisatawan domestik di akun media sosialnya.

Kalau menurut Wayan, makanan di kawasan itu sangat bervariasi, mulai pecel ayam lalapan, ayam kremes, sop konro, sate sampai dengan steak berlebel kebaratan. Harganya?

“Nggak mahal. Murah meriah. Mulai dari Rp 20.000 sampai Rp 100.000. Kalau Anda pecinta kuliner, dan tengah berlibut di Bali, nggak klop jika belum mencicipi kuliner di sini. Percaya lah, Anda pasti merasakan sensasi yang berbeda,” katanya bernada promosi.

Dari pemantauan Jurnalis Koran86.news yang sengaja menyambangi kawasan itu, keramaian terjadi mulai dari jam 18.00 sampai 24.00 Wita. Sebagian besar wisatawan memilih menginap di hotel di sekitar Jl. Dewi Sri Sunset Road Kuta, mengingat wisatawan malamnya pun begitu apik.

Liputan: Sony Encer

Editor  :  H. Sinano Esha