Wow! JK Records Menjual Kisah Cinta Wanita

Di tengah krisis industri rekaman lagu saat ini, anak muda bernama Leonard Nyo Kristianto, atau biasa disapa: “Nyo”, malah menghidupkan kembali JK Records, perusahaan bapaknya, Judi Kristianto, yang sudah dua dekade lebih koleps. Terbilang nekat dan berspekulasi tinggi. Padahal, dulu bapaknya melarang keras dia berurusan dengan musik. Tapi larangan itu diterobos, kuliah musik di Berklee College of Music, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat (AS), hingga menjadikannya musisi handal. Malah kini berani mengibarkan bendera JK Records dengan modal pas-pasan.

Seperti halnya era JK Records 1980-1990an, Nyo juga menjual dagangan yang sama: “Kisah Cinta Wanita”. Apa saja barang dagangannya itu, di bawah ini petikan wawancara H. Sinano Esha dengan bos generasi kedua perusahaan rekaman kondang tersebut.

Di saat perusahaan rekaman pada tumbang, tiarap, Anda malah mengibarkan kembali JK Records ? Anda ini nekat ya?

Nggak juga. Bukan nekat. Justru saya nggak mau kehilangan peluang, berkompetisi di era digital. Sekarang ini, secara mengglobal, baik lagu maupun film sudah berteknologi digital. Bukan lagi konvensional. Jika tidak segera ikut memulai, akan tertinggal….

Kenapa pilih JK Records, bukannya bikin usaha rekaman baru?

Bukan tanpa alasan membangun kembali JK Records yang sudah lama fakum. Jika bicara musik pop Indonesia, ya orang pasti menoleh ke JK Recods. Ini lantaran, musik di industri rekaman yang dibangun ayah saya sudah menjadi bapak musik pop nasional. Ini harus diakui, dan tak terbantahkan. Karena itu, kami berani menyatakan: “Ingat Musik Pop, Ingat JK Records”.

Ada beberapa alasan kenapa saya memilih perusahaan rekaman lama, fakum lagi, bukan bikin yang baru. Saya menyadari betul bahwa JK Records punya penggemar fanatik. Punya plowersnya yang tidak sedikit. Itu sudah saya teliti di google. Ternyata, perusahaan rekaman nasional yang punya banyak plowernya sadalah JK Records.

Mereka adalah fans setia. Seluruh album produksi JK Records mereka punya. Tergantung siapa penggemar artis siapa. Sampai sekarang pun, JK-mania itu selalu menunggu produksi terbaru kami.

Jujur saya katakan, di awal pembentukan bisnis rekaman ini, ayah saya tidak pernah terpikir kalau JK Records bisa seperti sekarang ini. Terus melegenda dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itulah saya berani memakai brand (nama usaha) itu, sekaligus tentunya lagecy (warisan) orangtua.

Tapi perlu dicatat, modal awal saya hanya beberapa belas juta rupiah saja. Warisan dimaksud adalah berupa master rekaman lagu, dan studio rekaman yang masih berteknologi jadul.

Anak muda sekarang memang masih suka lagu-lagu JK?

Faktanya begitu. Ternyata lagu-lagu era 1980 – 1990an masih digemari. Hampir seluruh lagu penyanyi JK Records seperti: Dian Piesesha, Pance Pondaag, Obbie Meshak, Wahyu OS, Meriam Bellina, Deddy Dores, Helen Sparingga dan lainnya, masih didengar orang. Baik usia dewasa maupun remaja.

Tapi ada juga yang bilang, lagu-lagu produksi JK Records itu galau. Itu nggak benar. Justru lagu-lagu sekarang ini yang galau. Lagu JK pada umumnya mewakili keluh kesah kehidupan masyarakat. Baik itu persoalan cinta, retaknya persahabatan maupun perselingkuhan rumah tangga. Pokoknya, persoalan keseharian manusia.

Coba saja simak seluruh lirik lagu-lagu produksi JK Records, ya umumnya menjual kisah cinta wanita. Ini yang cocok di dengar kuping, dan mengena di hati. Masyarakat dari dusun sampai kota besar, para penggemar lagu-lagu legenda, pasti hapal produksi JK Records.

Salah sau riset saya tentang produksi JK Records, adalah ke lokasi-lokasi kuliner di Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Ternyata para pengamen di lokasi itu yang rata-rata berusia remaja hapal benar lagu-lagu Pance, Obbie, Dian Piesesha dan penyanyi JK lainnya. Begitu pula yang makan, ikut bersenandung. Ini luar biasa buat saya. Ternyata lagu keluh kesah masih disukai banyak orang di era digital ini.

Karenanya, saya pun mesti melakukan hal yang sama dilakukan orangtua. Ini namanya warisan tematik, tidak bisa dirubah. Sebab, jualan JK adalah lagu-lagu seperti itu. Kalau saya rubah, atau coba membelokannya, ruh JK Records akan hilang.

Apakah itu sejalan dengan pendidikan musik Anda?

Terus terang, meski saya jebolan perguruan tinggi musik terkenal di dunia, tapi begitu susah saya pelajari musik produksi JK Records. Tiga bulan lebih saya pelajari musik yang dibuat oleh pemusik JK Records. Saya belajar dari nol lagi tentang lagu-lagu itu.

Kedengarannya sederhana, tapi setelah dipelajari ternyata sukar. Saya nggak munafik, atau jumawa mentang-mentang lulusan sekolah musik Amerika, jujur saya katakan lagu JK Records memang susah.

Malah saking susahnya, saya sempat ngomong sendiri, ini lagu-lagu JK maunya seperti apa sih? Selama tiga bulan lebih saya sendiri melakukan mastering (transfer dari analog ke digital) ribuan. Sampai akhirnya saya paham betul musik dan tema lagunya. Sekaligus mengerti tentang lagu yang banyak digemari dan kurang diminati masyarakat.

Ini bukan masalah sejalan atau tidak sejalan di dalam bermusik. Saya nggak bisa ego, karena ini tentang selera kebanyakan masyarakat terhadap produksi JK Records. Tentu saya nggak bisa memaksakan kehendak. Apalagi saya sudah bekerja sama dengan perusahaan digital sekelas dunia.

Saya bangga JK punya musisi yang juga pencipta lagu dan penyanyi seperti Pance Pondaag. Karya musiknya luar biasa. Coba saja dengerin lagu ciptaannya sekaligus arransemen musik yang dibuatnya untuk penyanyi Dian Piesesah dan Meriam Bellina. Dia membuat perbedaan karakter musik dan tema lagu pada dua penyanyi itu.

Perbedaan pada pilsofisnya. Kalau Dian Piesesha identik pada: rasa kasihan, sedangkan Meriam Bellina pada: rasa penasaran. Menarik sekali. Secara musikalisasi terdengar mirip, tapi jika diperhatikan baik-baik, didengar secara benar, karakter arrasemen musik buat Dian dan untuk Meriam sangat berbeda. Sepertinya Pance Pondaag sengaja membedakan kustom karakter dua penyanyi JK Records tersebut.

Dari ilmu musik yang Anda dapat di sekolah, apakah diterapkan di produksi JK?

Tentu. Lebih khusus sound di dalam track recording. Ilmu yang saya dapat dipakai untuk memperbaiki sound, yang semula terdengar sempit saya jadikan lebar. Sebab, ada beberapa istrumen dibuat mono ketika itu, seharusnya stereo.

Termasuk arrasemen lagu. Ada beberapa musik di bongkar karena saya anggap nanggung, padahal idenya bagus. Misalnya, album penyanyi Helen Sparingga yang belum sempat di rilis pada saat itu. Sekarang ini musiknya saya bongkar, saya bikin ulang. Ide musiknya tidak berubah. Sementara vokalnya tetap rekaman lama Helen.

Banyak album penyanyi JK saya bongkar musiknya. Baik yang sudah beredar maupun belum. Misal, album Wahyu OS, Dian Piesesha, Obbie Meshak dan lainnya. Tapi jangan salah pengertian, musik yang sudah ada bukan di perkosa sesuai kemauan saya. Bukan begitu.

Saya hanya memperbaiki agar arah musiknya jelas. Tidak nanggung. Jadi secara totalitas genre musiknya jelas terdengar. Pengertiannya, bukan genre keroncong lalu saya bongkar jadi musik rock. Bukan begitu.

Penjualan fisik produk rekaman sepert CD saat ini merosot jauh, toko musik konvensional pun banyak tutup, lantas kiat Anda seperti apa menjual produk JK?

Sekarang ini penjualan produk rekaman lagu berupa fisik dan digital. Berdagang fisik (CD) memang tidak sebagus sepuluh tahun silam. Tapi harus disiasati lewat komunitas, penggemar musik. Di Amerika dikenal power of community. Penjualan fisik lewat jalur ini cukup menjanjikan. JK punya komunitas setia, menyebar di seluruh daerah.

Selain itu, JK juga punya toko musik di kawasan Blok M (Jakarta Selatan). Di samping bekerja sama dengan toko online seperti buka lapak, toko pedia, blibli.com, hotline center JK Records.

Penjualan digital, saya bekerja sama dengan beberapa perusahaan seperti JOOX, Spotify dan lainnya. Dari data yang saya dapat, justru konsumen di jalur digital ini kebanyakan remaja. Artinya, lagu-lagu JK bukan milik usia dewasa, tapi juga remaja.

Bicara penggemar remaja, ada usaha Anda membuat sentuhan musik bagi kalangan ini pada album penyanyi lawas JK?   

Terus terang, di era sekarang ini penggemar Dian Piesesha menjadi dua generasi. Yakni, penggemar era 1980-1990an, serta saat ini yang umumnya remaja. Misalnya, pada lagu bertajuk “Satukanlah Hati Kami” ternyata bukan hanya disukai usia tua, tapi juga anak muda sekarang.

Hasil penelitian kami, album baru Dian Piesesha memang harus dibuat untuk dua generasi penggemar. Jadilah album “Aku Ingat Dirimu”, dibuat bagi usia tua muda, baik fans penyanyinya maupun JK Record.

Dua generasi dimaksud, kolaborasi antara hasil rekaman lama (1980an) dengan yang baru berupa perombakan musiknya. Recording lama berupa vokal Dian Piesesha, sementara yang baru merupakan penataan musik dirubah secara teknologi modern saat ini.

Album Dian Piesesha ini berisi 12 lagu, dua di antaranya lagu baru, yaitu: “Aku Ingat Dirimu” dan “Dalam Cinta Kita”. Sepuluh lagu lama saya garap kembali dengan teknologi recording modern.

Perubahan pada aransement musik menjadikan lagu-lagu lama Dian Piesesha jadi terdengar baru. Hal ini saya lakukan tanpa harus melepas roh nostalgia bagi fans JK Record dan penyanyinya. Dengan begitu, kesan yang muncul di album baru Dian Piesesha ini mewah dan megah.

Agar terdengar mewah dan megah, rumusan teknologinya seperti apa?

Lagu-lagu di album baru Dian Piesesha ini di mastering khusus untuk iTunes dengan sertifikasi Mastering For iTunes (MFiT). Itu sebabnya, saya nilai ini luar biasa. Itu sebabnya, selama dua pekan mendapat treatment khusus untuk pre-order iTunes dan Apple Music.

Agar lebih terasa nostalgianya, di album ini disertakan duet Dian Piesesha dengan penyanyi/musisi beken era 1980an: Pance Pondaag (almarhum) di lagu “Mimpiku Semalam”, serta Wahyu OS untuk lagu “Ku Ingin Bersamamu”.

Bukan itu saja, saya coba mengolaborasi Dian Piesesha dengan tiga vokalis baru yang genre musiknya bersebrangan. Yakni, duet sama Aldy, vokalis group rap Hip-Hop Neo (pernah beken dengan lagu Borju), lewat lagu “Putih Di Bibir, Hitam Di Hati”. Ini bukan hanya menarik, tapi juga unik.

Duet unik lainnya, duet Dian Piesesha dengan pesinden asal Jepang, Hiromi Kano, pada lagu “Keroncong Kerinduan”, serta Steven Lengkoan, vokalis band aliran indie Folks! di lagu beken “Tak Ingin Sendiri”.