Airbag Macet, Toyota Astra Motor Digugat Rp 5 Miliar

 

JAKARTA (Koran86news)–Perusahaan otomotif PT Toyota Astra Motor digugat ganti rugi sebesar Rp 5,307 miliar karena dianggap telah merugikan Malinda Trisnawati, pemodel yang mengalami cacat permanen pada bagian wajahnya. Gugatan sudah diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) oleh Kantor Hukum Julius Rizaldi & Partners, selaku kuasa hukum, pada 24 Agustus 2017, dengan register pendaftaran No.429/Pdt.G/2017/PN Jkt Utr.

Ardian Rizaldi, advokat pada Kantor Hukum Julius Rizaldi & Partners menjelaskan, bahwa gugatan kliennya terhadap perusahaan mobil tersebut terkait komponen kendaraan yang tidak berfungsi ketika terjadi kecelakaan. Yakni, Airbag berteknologi SRS pada mobil Toyota Vios 1.5G AT produksi tahun 2014 yang dikendarai Malinda Trisnawati ketika terjadi indiden di jalan Tol Jor Lingkar Timur wilayah Cilincing, Jakarta Utara, pada 24 Agustus 2016.

“Klien kami beranggapan, PT Toyota Astra Motor telah merugikan konsumennya. Sebab, jika Airbag itu berfungsi baik, tidak mengalami kemacetan, setidaknya pengemudi terhindar dari benturan ketika terjadi kecelakaan karena terlindungi,” paparnya kepada Jurnalis Koran86news, Kamis sore (24/8/2017).

Teknologi Airbag, lanjut Ardian, seyogianya memberikan perlindungan tambahan bagi pengemudi maupun penumpang pada saat terjadi kecelakaan, selain dengan menggunakan sabuk pengaman (safety belt). Tapi faktanya, Malinda Trisnawati menderita luka serius pada dahi, robek menganga, serta di bagian mata kanan dan bibir.

“Semua luka itu mendapat puluhan jahitan. Kondisi klien kami masih belum pulih benar. Sebagai wanita berprofesi model, luka pada wajahnya sangat merugikan. Dia begitu menyesali tak berfungsinya komponen mobil produksi PT Toyota Astra Mobil yang dibelinya tiga tahun silam,” paparnya.

Advokat ini mengingatkan, luka permanen pada bagian wajah kliennya tidak akan pernah bisa dikembalikan seperti semula. Dengan begitu, sebagai pemodel, kliennya kehilangan pekerjaan. Dan sebagai wanita, Malinda Trisnawati kehilangan kepercayaan dirinya.

“Karena itu, wajar jika kami menggugat ganti rugi materiil sebesar Rp 307 juta lebih, dan imateriil senilai Rp 5 miliar. Kami pikir nominal tersebut wajar bagi perusahaan mobil itu mengganti kerugian kepada konsumennya,” ujar Ardian.

Itikad Tidak Baik

Dijelaskan, sebagaimana pula materi gugatan yang diajukan ke PN Jakut, sebelum gugatan diajukan, pihaknya berusaha melakukan pertemuan dengan perusahaan mobil itu guna meminta kejelasan kenapa sistem keselamatan Airbag tidak berfungsi pada saat kecelakaan. Tapi sayangnya, PT Toyota Astra Motor malah tidak memberikan tanggapan atau respon. Sikap itu dianggap itikad tidak baik.

“Dengan tidak adanya itikad baik, terlebih lagi tidak memberikan kompensasi ganti kerugian sebagai bentuk pertanggung jawaban, maka tergugat (PT Toyota Astra Motor) dinilai telah melakukan perbuatan melawan hokum,” urai Ardian.

Perusahaan mobil itu, lanjutnya, telah melanggar ketentuan perundang-undangan, melanggar hak konsumen, melanggar kewajiban hukumnya sendiri, bertentangan dengan asas kehati-hatian, kepatutan, dan kepantasan dalam masyarakat.

Menurut Ardian, sesuai ketentuan Pasal 7 huruf a, d, dan f Undang-undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, pada pokoknya mewajibkan PT Toyota Astra Motor sebagai pelaku usaha untuk : a. Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya,  d. Menjamin mutu dari barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku, serta f. memberikan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat peng-gunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.

“Kecelakaannya sendiri terjadi ketika klien kami berkendaraan di jalan Tol Jor Lingkar Timur wilayah Cilincing (Jakarta Utara), tepatnya di Out-Ramp/jalan keluar Budi Dharma. Dia berusaha menghindarai truk, di sisi kiri jalan. Tapi malang, Sedan Vios B 707 LIN yang dikendarainya menghantam trailer. Sayangnya, Airbag di kemudi tak berfungsi, sehingga wajahnya membentur keras stir,”pungkas Ardian.

Liputan: Sin