Kasus Mario Teguh, Polisi Abaikan Harga Diri Wanita?

JAKARTA (KORAN86.news) – Bagi advokat senior Ferry H. Amarhoseya, tindakan Polda Metro jaya menghentikan laporan kliennya yang telah dihina oleh Mario Teguh sang motivator, bukan hanya sekedar mengada-ada, tapi juga pengabaian harga diri wanita. Jika hal ini dibiarkan bakal menimbulkan preseden buruk.

Di saat negeri ini merayakan hari jadinya yang ke 72 tahun, kata Ferry, polisi malah bersikap ganjil. Seolah membiarkan harga diri perempuan dilecehkan. Bagi dia, di hari kemerdekaan kali ini, meruapakan hari berkabung bagin kaum wanita. Polisi membiarkan tindakan tersebut.

Menurut dia, pembiaran itu terlihat setelah terbitnya Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan (SP3) Nomor B/10987/VIII/2017/ Datro yang dikeluarkan Polda Metro Jaya pada 10 Agustus 2017, yang artinya penghinaan terhadap kliennya, Ariyani Soenarto, tak lagi dilanjutkan. Alasannya tak cukup bukti.

“Apanya tak cukup bukti? Klien saya jelas-jelas sudah dihina secara luas melalui tayangan televisi, eh, malah tak cukup bukti. Anak kelas enam sekolah dasar, kalau nonton tayangan itu, pasti paham ada penghinaan di dalamnya. Masa polisi nggak tahu, ganjil kan? Lucu kan?” katanya kepada Jurnalis Koran86.news ketika dihubungi.

Lebih jauh Ferry menegaskan, pihaknya siap menghadirkan ahli pidana dan bahasa untuk menilai ucapan Mario Teguh yang patut diduga menghina kliennya. Dia beryakinan, perkataan Mario bisa dikategorikan suatu bentuk tindak pidana.

“Seluruh rakyat Indonesia pasti tahu apa yang dibicarakannya (Mario Teguh). Janggal sekaligus ganjil rasanya tiba-tiba polisi menghentikan kasus ini,” tegasnya penuh tanya.

Ditambahkan, jika laporan kliennya ada kekurangan di sana-sini, sebaiknya penyidik polisi memberitahu. Sebab, sejak Mario teguh dilaporkan pada Oktober 2016, polisi belum pernah menyatakan adanya kekukarangan. Seakan-akan dibiarkan begitu saja.

“Kasus klien saya ini bukan perselisihan keluarga, mengingat pernikahan kliennya dengan Mario Teguh sudah cerai 24 tahun silam. Ini murni pidana. Kami sudah menyerahkan rekaman wawancara Mario Teguh di sebuah stasiun televisi sebagai barang bukti. sekaligus transkrip wawancaranya. Kami menilai, semuanya itu sudah memenuhi unsur pidana,” papar Ferry.

Dengan terbitnya SP3 itu, menurut Ferry, Ariyani Soenarto beserta anaknya, Ario Kiswinar, yang jadi korban penghinaan Mario Teguh bakal mempraperadilankan Polda Metro Jaya. “Catat, pada persidangan perdana nanti, saya akan minta izin pengadilan untuk bikin layar tancap di ruangan sidang guna memutar i wawancara pihak televisi dengan Mario Teguh,” katanya.

Seperti diketahui, sekitar Oktober 2016 motivator kondang Mario Teguh menyatakan dalam wawancara dengan salah satu stasiun televisi swasta bernada penghinaan terhadap Ariyani Soenarto, mantan isternya, serta Ario Kiswinar yang dinyatakan bukan putranya. Tapi hasil tes DNA, anak muda itu identik anak kandunga Mario Teguh.

Tindakan penghinaan atau pencemaran nama bik itu, kemudian dilaporkan Ferry Ferry H. Amarhoseya yang ditunjukan Ariyani Soenarto sebagai kuasa hukumnya. Sayangnya, setelah proses berjalan hampir setahun, pada 10 Agustus 2017 Polda Metro Jaya menerbitkan SP3.

Artinya, SP3 yang ditandatangani Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rudy Heriyanto Adi Nugroho, menegaskan kalau penyidikan kasus ini dihentikan karena dianggap bukti tidak cukup. Tidak disebutkan buktinya.

“Keanehan, dan keganjilan ini harus dilawan. Seperti halnya kasus rekan saya, soal warisan, perkaranya sudah sembilan tahun tapi polisi belum juga prosesnya. Keterlaluan kan?” papar Ferry kepada Jurnalis Koran86.news, akhir pekan ini.

Liputan: Judhistira

Editor  : H. Sinano Esha