Kim Versus Kim, Saling Sikut Taipan Korea

JAKARTA (Koran86.news) – Malang nasib pengusaha asal Korea Selatan (Korsel), Kim Kyunggo. Pasca pemecatannya sebagai Direktur di PT Arum Investmen Indonesia (AII), bakal menyusul tindakan deportasi lantaran batas waktu menetap di Indonesia sudah habis.

Padahal terbentuknya konsorsium Korsel-Indonesia PT AII, pengelola sarana rekreasi SnowBay Waterpark, andil Kim Kyunggo cukup besar. Mengingat dia salah satu komisaris perusahaan induk PT AII di Korsel. Tapi, cilakanya, dia dikhianati oleh sahabat yang juga rekan bisnisnya, Kim Daejin.

“Setelah dia (Kim Daejin) menjabat Presiden Direktur (Presdir) PT AII, saya dipecatnya secara sepihak melalui mekanisme rapat perusahaan. Aksi itu tertuang di dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat PT AII No. 19 tertanggal19 Januari 2018,” kata Kim Kyunggo kepada Jurnalis Koran86.news dan beberapa awak media lain di Gajah Mada Plaza, Jakarta Pusat, akhir Januari 2018.

Ditambahkan, akta rapat itu oleh Kim Daejin telah diregretasi dan tercatat di Adminitrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) No. AHU-AH 01.03.0033178 tertanggal 24 Januari 2018. Artinya, pemerintah Indonesia telah mengetahui jika dirinya tidak lagi bekerja di PT AII.

“Ini keterlaluan, dan saya anggap Kim Daejin melanggar hukum. Saya dipecat tanpa dihadirkan dalam rapat PT AII. Dia bakal saya tuntut,” ujar Kyunggo sengit.

Di bagian lain dia menjelaskan, sebelum dirinya didepak, pada 8 Januari 2018 Kim Deajin sebenarnya lebih dahulu dipecat oleh para pemegang saham, board of directors (BOD) PT AII. Pemecatan itu dilakukan lewat Rapat Umum Luar Biasa BOD.

“Alasannya, Kim Deajin melanggar hukum, yakni ditahan polisi pada 7 Januari 2018 diduga menggunakan Narkoba, serta melakukan penggelapan uang perusahaan untuk menutupi masalahnya itu. Oleh para anggota BOD, dia dipecat sebagai Presdir PT AII,” ungkap Kim Kyunggo.

Perbuatan itu, menurut Kyunggo, berbuntut pemecatan Deajin sebagai Presiden Direktur PT AII atas dasar Rapat Umum Luar Biasa Para BOD PT AII pada 8 Januari 2018. Hasilnya, taipan Korsel itu diberhentikan, sebagaimana tertuang di dalam Surat Keputusan  PT AII yang ditandatangani pemegang saham perusahaan Arum Korsel: Kim Kyunggo, Pak Hunyoung dan Jung Jaehoon.

Diingatkan, Tindakan BOD mengacu pada Pasal 9 ayat (4) serta Pasal 10 ayat (1) Anggaran Dasar Persero. Sekalipun Deajin tidak hadir maupun tak diberitahukan melalui undangan atau surat kabar, keputusan dapat dibenarkan secara hukum.

Bisa jadi, lantaran pemecatan itu, Kim Deajin kemudian menaruh dendam terhadap Kim Kyunggo, dan berbuntut melakukan aksi balik memecat. “Itu dilakukan karena Deajin merasa memiliki saham cukup besar di PT AII, dibandingkan saya. Tapi, jika saham saya dan Park Hunyoung digabung, kami pemilik saham mayoritas,” kata Kim Kyunggo.

Saham Lokal Dibeli

Menurut Kyunggo, peraturan baru Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang tidak lagi mengharuskan kepemilikan saham pada perusahaan konsorsium 50%:50%, dimanfaatkan Kim Deajin. Sebagian besar saham lokal dibelinya. Dengan begitu, taipan Korsel yang satu itu, kepemilikan sahamnya di PT AII cukup besar dibandingkan Kim Kyunggo.

Mestinya, ujar Kim Kyunggo, sekalipun jumlah sahamnya tinggi, bukan berarti kemudian semena-mena melakukan pemecatan jabatan terhadap pemilik saham lainnya. Apalagi dilakukan di dalam rapat tanpa kehadiran pihak yang dipecatnya.

“Dia itu seperti kacang lupa kulit. Saya yang mengajaknya bekerja di Indonesia tujuh tahun silam, setelah dipecat oleh pimpinan bank tempatnya bekerja,” cerita Kyunggo yang sudah sepuluh tahun bermukim di Indonesia.

Deajin, katanya lagi, dipekerjakan sebagai Direktur Keuangan PT AII. Dalam perjalanan usaha, setelah ada kebijakan baru BKPM, saham milik konsorsium lokal dibeli oleh Deajin. Karena kepemilikan cukup dominan, level jabatan pun naik, jadi Presdir PT AII.

“Jabatan itu yang kemudian dia gelap mata, bertindak semena-mena, main pecat orang lain tanpa alasan. Saya tidak terima, tindakannya itu cukup jelas bertentangan dengan hukum di Indonesia. Saya berharap pemerintah Indonesia menyelidikinya,” saran Kim Kyunggo.

Kasus Narkotika

Pemecatan Kim Deajin sebagai Presiden Direktur PT AII, sebagaimana disebutkan dalam Surat Keputusan Rapat Umum Luar Biasa Para BOD tanggal 8 Januari 2018 adalah kasus Narkotika dan penggelapan uang perusahaan sebesar Rp 1,6 miliar.

Beberapa mass media memberitakan, pada 5 Januari 2018 polisi telah menangkap enam pengusaha asal Korsel yang diduga menkonsumsi Narkoba di tempat hiburan malam Golden Crown. Mereka di antaranya: Kim Deajin, Song Do Ji, Kim Yong Yook, Kim Su Hyun, Kim Jae Hyun dan Kim Jae Hoon.

Diberitakan, Kim Daejin menjamu para tamunya itu di Golden Crown sejak 5 Desember 2017. Dua hari berikutnya, 7 Desember 2017, mereka ditangkap polisi lantaran menkonsumsi Narkoba, lalu ditahan di Polda Metro Jaya. Pada 11 Januari 2018 polisi melepas. Kabarnya, ada kucuran dana Rp 1,6 miiar.

 

Perihal penangkapan Kim Deajin Dkk dibenarkan Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Suwondo Nainggolan. Tapi, katanya, mereka dibebaskan lantaran tidak ditemukan barang bukti.

“Ini kasus barang buktinya enggak ada,” katanya kepada wartawan belum lama ini.

Pada bagian lain Suwondo meyakinkan kalau penyelidikan pihaknya terhadap Kim Deajin dan lima warga Korsel itu dilakukan secara profesional.

Terkait dugaan Kim Deajin menyuap polisi sebesar Rp 1,6 miliar agar terbebas dari bui, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Polda Metro Jaya Komisaris Besar Prabowo Argo Yuwono membantah.

“Dari hasil pemeriksaan lokasi dan tes urine, enam orang warga asing itu dibebaskan karena memang tak menggunakan Narkoba,” tegas Argo Yuwono kepada wartawan, Jumat (2/2/2018).

Keenam orang itu, jelasnya, sempat ditahan selama lima hari di Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya sebelum dibebaskan kembali pada 11 Desember 2017. Polisi kesulitan mengorek informasi dari mereka karena tak bisa berbahasa Indonesia, karena itu dibutuhkan penerjemah dari Kedubes Korea Selatan di Indonesia. (Sin)