Santri Bakar Bendera, Ponpes Dicurigai Terkait Jaringan ISIS

BOGOR (Koran86.news)–Aparat Kepolisian Jawa Barat secara intensif masih mendalami pemeriksaan terhadap santri Pondok Pesantren (Ponpes) Ibnu Mas’ud, Muhammad Supriadi (25), yang ditenggarai membakar bendera merah putih dalam ukuran umbul-umbul yang dipasang warga Desa Sukajaya, Bogor. Polisi telah menetapkannya sebagai tersangka.

Sejauh ini pihak kepolisian memang belum menjelaskan hasil penyelidikan terhadap santri asal Cirebon itu, apakah termasuk jaringan Islamic State of Iran and Syria (ISIS) atau tidak. Namun tindakannya yang anti NKRI patut dicurigai, mengingat beberapa tokoh asal Ponpes ini konon terindikasi merupakan jaringan organisasi muslim radikal tersebut.

Menurut Kepala Polres Bogor Andi M Dicky, hasil pemeriksaan sementara motif tersangka membakar umbul-umbul merah putih karena anti NKRI.

“Lantaran anti NKRI, ketika melihat umbul-umbul dipasang di depan Ponpes, emosinya bangkit. Tanpa pikir lagi dia membakarnya,” jelas Dicky di Mapolres Bogor, akhir pekan lalu.

Dijelaskan Kapolres, tersangka adalah salah satu pengajar di Ponpes tersebut. Diduga masih berkaitan dengan salah satu pelaku teror, namun hal itu pihaknya masih mendalaminya.

“Ya, masih dilakukan pemeriksaan lebih jauh terhadap tersangka,” tutur Dicky seraya menambahkan, saat ini sangkaannya melanggar Pasal 66 jo Pasal 24 huruf a UU No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan dan atau Pasal 406 KUHP dan atau 187 KUHP.

Sementara itu, menurut Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (PAKAR), sebagaimana dikutip medsos Arrahmah baru-baru ini, bahwa Ponpes Ibnu Mas’ud diduga bagian dari jaringan ISIS.
Direktur Eksekutif PAKAR Mohd Adhe Bhakti menyebutkan, dari penelitian yang dilakukan secara mendalam, pihaknya menemukan beberapa indikasi keterkaitan pesantren tersebut dengan ISIS.

“Di antara indikasi tersebut adanya pengurus, ustadz dan santrinya yang bergabung atau mencoba bergabung dengan ISIS di Suriah. Bahkan salah satu tokoh utama pesantren tersebut, yaitu Aman Abdurrahman, saat ini menjadi salah satu figur penting di kalangan pendukung ISIS di Indonesia,” jelas Adhe seperti dikutip Arrahmah, Jum’at, (18/08/17).

Peneliti PAKAR, Samsul Fata, mengungkap adanya dugaan keterkaitan Ponpes tersebut dengan jaringan terorisme internasional. Ada beberapa indikasi dan data lapangan menunjukkan kalau Ponpes itu terkait aksi-aksi teror di Indonesia.

“Seperti diketahui, pendirinya merupakan mantan Napi terorisme (alm Bhakti Rasna alias Haekal), dan santrinya atas nama Gisti Adam terlibat dalam Bom Gereja Samarinda tahun lalu. Pada Oktober 2016 Adam dan Johanda berbaiat kepada pimpinan ISIS di masjid Mujahidin, Loa Janan Ilir Samarinda. Kemudian mereka membuat bahan peledak di masjid tersebut, yang kemudian Johanda gunakan untuk menyerang Gereja Oikumene Samarinda.” ungkap Samsul Fata, seperti dikutip media online Arrahmah.co.id.

Santri Nekat

Peristiwa pembakaran umbul-umbul merah putih terjadi pada Rabu malam (16/8/2017), pada saat warga Desa Sukajaya, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor, pasang atribut bendera menyambut HUT Kemerdekaan RI ke 72 secara bergotong royong.

Tiba-tiba, seusai beberapa umbul-umbul di pasang di depan Ponpes Ibnu Mas’ud, muncul anak muda yang kemudian diketahui bernama Muhammad Supriadi, santri Ponpes asal Cirebon, Jawa Barat. Tanpa basa-basi dia langsung menyulut satu umbul-umbul merah putih persis yang terpasang di depan Ponpes tempatnya menimba ilmu agama.

Melihat aksi tak wajar itu, belasan warga yang tengah menghias jalan desa, segera menghampiri Muhammad Supriadi dengan wajah kesal. Melihat banyak warga yang datang, santri nekat itu berlari masuk ke dalam Ponpes. Membiarkan api membakar kain umbul-umbul. Namun warga sigap memadamkannya.

Dalam hitungan menit, jumlah warga menjadi ratusan menggeruduk Ponpes guna mencari santri yang dianggap kurangajar tersebut. Ternyata, pengurus Ponpes melindungi Muhammad Supriadi. Adu mulutpun tak terhindarkan lagi antara warga setempat dengan pihak Ponpes.

Sebagian warga yang sudah tersulut emosi, berteriak-teriak memanggil santri nekat itu. Jika tidak, mereka akan membakar Ponpes. Suasana begitu mencekam, ditambah lagi warga dari luar desa pada berdatangan.

Namun suasana bisa terkendali setelah puluhan anggota polisi gabungan Polres Bogor dan Polsek setempat. Pihak warga diajak berunding dengan pengelola Ponpes. Sementara sang santri nekat diamankan polisi.

Ternyata aksi megeruduk Ponpes itu berlanjut pada siang harinya. Ratusan warga dari berbagai daerah berdatangan, mendesak Kepala Desa Sukajaya menutup Ponpes Ibnu Mas’ud yang dianggap sarang santri radikal.

Aksi warga tidak disertai tindakan anarkis, mengingat puluhan polisi bersenjata lengkap sudah berjaga di lokasi. Massa hanya berteriak-teriak meminta Ponpes dikosongkan, dan ditutup.

“Sebetulnya semalam sudah kami kendalikan. Tapi jumlah massa sejak pagi semakin banyak, akhirnya kami kerahkan pasukan untuk mengamankan area ponpes,” papar Kapolres Bogor Andi M Dicky kepada wartawan di lokasi, Kamis (17/8/2017).

Liputan: Tim Jurnalis Koran86.news

Editor  : Sin