Sidang Kasus Astra Digugat Ditunda

JAKARTA (Koran86.news) –Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) pimpinan Dodong Iman Rusdani menunda sidang gugatan ganti rugi seorang model, Malinda Trisnawati, senilai Rp 5 miliar lebih terhadap PT Toyota Astra Motor, untuk dilakukan mediasi para pihak pada persidangan berikutnya, Rabu (20/9/2017).

Penudaan sidang disampaikan Majelis Hakim PN Jakut yang mengadili perkara gugatan ganti rugi pada persidangan pertama, Rabu (13/9/2017). Agar pelaksanaan mediasi berjalan lancar, majelis telah menunjuk Hakim DidikMuryanto selaku mediator.

“Sesuai ketentuan Peraturan Mahkamah Agung (Perma) No.1 Tahun 2016 tentang Mediasi, maka proses awal gugatan ini diperlukan mediasi. Diharapkan ada kesepakatan untuk tidak melanjutkan proseshkumnya,” kata Dodong Iman Rusdani sebelum menutup sidang untuk ditunda.

Lantaran adanya ketentan dimaksud, persidangan gugatan yang diajukan Melinda Trisnawati pun urung dilaksanakan, yang semula rencananya adalah pembacaan materi gugatan.

Sebelumnya, kepada jurnalis Koran86.news, kuasa hukum penggugat (Malinda Trisnawati) Ardian Rizaldi dari Law Firm Julius Rizaldi & Partners menjelaskan, perusahaan otomotif PT Toyota Astra Motor digugat ganti rugi sebesar Rp 5,307 miliar karena dianggap telah merugikan kliennya.

Malinda Trisnawati, katanya, mengalami cacat permanen pada bagian wajahnya. Gugatan yang diajukan ke PN Jakut pada 24 Agustus 2017 terkait komponen kendaraan yang tidak berfungsi ketika terjadi kecelakaan. Yakni, Airbag berteknologi SRS pada mobil Toyota Vios 1.5G AT produksi tahun 2014 yang dikendarai Malinda Trisnawati, tidak berfungsi sebagaimana mestinya ketika terjadi insiden di jalan Tol Jor Lingkar Timur wilayah Cilincing, Jakarta Utara, pada 24 Agustus 2016.

“Dengan tidak berfungsinya Airbag, klien kami beranggapan PT Toyota Astra Motor telah merugikan konsumennya. Sebab, jika Airbag itu berfungsi baik, setidaknya klien kami yang mengendarai mobil itu dipastikan terhindar dari benturan ketika terjadi kecelakaan, karena terlindungi Airbag,” papar Ardian, Kamis sore (24/8/2017).

Teknologi Airbag, lanjut Ardian, seyogianya memberikan perlindungan tambahan bagi pengemudi maupun penumpang pada saat terjadi kecelakaan, selain dengan menggunakan sabuk pengaman (safety belt). Tapi faktanya, Malinda Trisnawati menderita luka serius pada dahi (robek menganga), serta luka di bagian mata kanan dan bibir.

“Semua luka itu mendapat puluhan jahitan. Kondisi klien kami masih belum pulih benar. Sebagai wanita berprofesi model, luka pada wajahnya sangat merugikan. Dia begitu menyesali tak berfungsinya komponen mobil produksi PT Toyota Astra Mobil yang dibelinya tiga tahun silam,” paparnya.

Advokat ini mengingatkan, luka permanen pada bagian wajah kliennya tidak akan pernah bisa dikembalikan seperti semula. Dengan begitu, sebagai pemodel, kliennya kehilangan pekerjaan. Dan sebagai wanita, Malinda Trisnawati kehilangan kepercayaan dirinya.

“Karena itu, wajar jika kami menggugat ganti rugi materiil sebesar Rp 307 juta lebih, dan imateriil senilai Rp 5 miliar. Kami pikir nominal tersebut wajar bagi perusahaan mobil itu mengganti kerugian kepada konsumennya,” ujar Ardian.

Itikad Tidak Baik

Dijelaskan, sebagaimana pula materi gugatan yang diajukan ke PN Jakut, sebelum gugatan diajukan, pihaknya berusaha melakukan pertemuan dengan perusahaan mobil itu guna meminta kejelasan kenapa sistem keselamatan Airbag tidak berfungsi pada saat kecelakaan. Tapi sayangnya, PT Toyota Astra Motor malah tidak memberikan tanggapan atau respon. Sikap itu dianggap itikad tidak baik.

“Dengan tidak adanya itikad baik, terlebih lagi tidak memberikan kompensasi ganti kerugian sebagai bentuk pertanggung jawaban, maka tergugat (PT Toyota Astra Motor) dinilai telah melakukan perbuatan melawan hokum,” urai Ardian.

Perusahaan mobil itu, lanjutnya, telah melanggar ketentuan perundang-undangan, melanggar hak konsumen, melanggar kewajiban hukumnya sendiri, bertentangan dengan asas kehati-hatian, kepatutan, dan kepantasan dalam masyarakat.

Menurut Ardian, sesuai ketentuan Pasal 7 huruf a, d, dan fUndang-undang No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, pada pokoknya mewajibkan PT Toyota Astra Motor sebagai pelaku usaha untuk : a. Beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya,  d. Menjamin mutu dari barang dan/atau jasa yang diproduksi dan/atau diperdagangkan berdasarkan standar mutu barang dan/atau jasa yang berlaku, serta f. memberikan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat peng-gunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan.

“Kecelakaannya sendiri terjadi ketika klien kami berkendaraan di jalan Tol Jor Lingkar Timur wilayah Cilincing (Jakarta Utara), tepatnya di Out-Ramp/jalan keluar Budi Dharma. Dia berusaha menghindarai truk, di sisi kiri jalan. Tapi malang, Sedan Vios B 707 LIN yang dikendarainya menghantam trailer. Sayangnya, Airbag di kemudi tak berfungsi, sehingga wajahnya membentur keras stir,”pungkas Ardian.

Liputan: Yudhis

Editor   : H. Sinano Esha