Sumur Gas Trembul Minta Korban Tiga Brimob

SEMARANG (Koran86.news) –Sumur minyak Sarana Gas Trembul (SGT) 001, di kawasan Desa Karangtengah, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, minta korban jiwa. Tidak kepalang tanggung, yang meregang nyawa pasca Magrib, atau sekitar pukul 18.30 WIB, Selasa (10/10/2017), tiga personil Brimob dari Polda Jawa Tengah (Jateng).

Tiga korban diketahui bernama: Brigadir Budi Wibowo (30), Brigadir Ahmad Supriyono (35), masing-masing mengalami luka tembak di badan, dan Brigadir Kepala (Bripka) Bambang Tejo (37) dengan luka menganga di kepala.

Mereka yang tewas merupakan personel Brimob Pati, Polda Jateng, yang ditugaskan menjaga SGT 001 bersama tiga anggota lainnya. Sebelum ketiga Brigadir itu ditemukan bersimbah darah, terdengar rentetan suara senjata api di tempat kejadian perkara (TKP).

Menurut saksi Rendi, salah satu pekerja Giken Sakata Singapura (GSS), pada pukul 18.30 WIB terdengar suara rentetan suara tembakan. Ia penasaran, kemudian mendekati TKP guna mengetahui apa yang terjadi.

“Dia (Rendi) melihat satu personel Brimob tergeletak di jalan, tepatnya di depan tenda pengamanan Brimob. Kemudian segera menghubungi Polsek serta Koramil Ngawen,” jelasnya salah satu anggota Polsek Ngawen kepada wartawan, Selasa (10/10/2017) di lokasi kejadian.

Untuk sementara waktu, polisi menduga tewasnya Brigadir Budi Wibowo dan Brigadir Ahmad Supriyono lantaran ditembak oleh rekannya sendiri, yaitu Bambang Tejo yang kemudian ikut tewas setelah menembak kepalanya sendiri.

Kesimpulan tersebut berdasarkan keterangan saksi Barigadir Slamet Muhadi, anggota Brimob penjaga sumur minyak SGT 001. Ketika sedang mandi ia mendengar suara tembakan beruntun. Khawatir ada serangan dari pihak lain, Slamet bergegas menyelesaikan mandinya.

Namun, lanjutnya, ketika saksi menuju asal suara tembakan dicegah oleh Bripka Bambang Tejo. Malah menyuruhnya pergi. Belum jauh Brigadir Slamet meninggalkan lokasi, tiba-tiba kembali terdengar suara letusan senjata api.

Tanpa pikir panjang, saksi Brigadir Slamet mendatangi asal suara. Betapa kagetnya mana kala melihatBripka Bambang tergeletak dengan luka tembak di kepala. Di sampingnya tergeletak senjata api jenis AK 101. Masih di sekitar tenda jaga dilihatnya dua rekan Brimob lainnya juga bersimbah darah.

Tugas Jaga Sumur

Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol Condro Kirono membenarkan kalau sumur minyak SDT 001 dijaga oleh anggota Subden IV Brimob Polda Jateng. Enam personil yang bertugas memang dibekali senjata AK 101.

Menurut dia, keberadaan anggota Brimob di sumur minyak itu terkait permohonan pengamanan proyek vital nasional kepada Polri. Karenanya Satuan Brimob Polda Jateng ditempatkan di sana, ada 6 personil.

“Personil Brimob di sana dipersenjatai AK 101,” jelas Condro Kirono kepada wartawan di Gedung Akpol, Semarang, Rabu (11/10/2017).

Menurut saksi, lanjutnya, terdengar 3 kali tembakan saat kejadian. Awalnya 2 suara letusan, kemudian disusul ketika saksi diminta pergi oleh Bripka Bambang Tejo, terdengar lagi 1 suara tembakan.

Dikatakan, Bripka Bambang Tejo diduga menembak dua rekannya Brigadir Budi Wibowo dan Brigadir Ahmad Supriyono, kemudian melakukan bunuh diri.

Dijelaskan Condro Kirono, pihaknya masih mendalami kasus tersebut, termasuk kemungkinan adanya adu tembak di antara ketiganya. Akan tetapi, dari olah TKP dipastikan hanya ada satu pucuk senjata yang berada di dekat jenazah Bripka Bambang Tejo.

“Di lokasi kejadian hanya ada satu senjata, didekat korban. Yang 2 senjata lainnya ada di dalam barak,” paparnya.

Ditambahkan, saat ini polisi masih menyelidiki peristiwa tersebut. Ketiga jenazah akan diotopsi di Blora. “Kami memerintahkan kepada Dir Krimum dengan tim dan juga Kalabfor dan tim dan juga tim identifikasi dan Kasat Brimob. Kapolres juga saya perintahkan kembali ke Blora untuk olah TKP dan pemeriksaan saksi, identifikasi, sekaligus melaksanakan otopsi di Blora,” kata Condro Kirono.

Kawasan Angker

Sementara itu, beberapa warga Desa Karangtengah mengatakan, bahwa di kawasan yang kini menjadi lokasi sumur minyak memang dikenal cukup angker, dan menyeramkan. Banyak mahluk halusnya. Sebagian besar warga desa menghindari daerah itu selepas Magrib.

“Sejauh ini memang belum ada yang menjadi korban. Tapi ini baru partama kali lokasi itu minta korban jiwa. Tiga orang sekaligus. Itu artinya, pemanfaatan kawasan harus mendapat “izin mbaureksonya”. Jika tidak, bakal ada korban berikutnya,” kata salah satu warga kepada Jurnalis Koran86.news, Selasa malam (10/10/2017).

Menurut dia, cara mbaurekso minta korban macam-macam. Mulai dari kecelakaan hingga insiden berdarah. “Ya, adu tembak anggota Brimob itu salah satu cara mahluk halus di lokasi merengut korbannya,” ujarnya.

Dia berharap pemerintah, atau pihak swasta yang kini menguasai lokasi untuk dijadikan pertambangan minyak dan gas, sebaiknya menggelar upacara tolak bala agar dikemudian hari tidak ada lagi korban jiwa.

Liputan: Tim Jurnalis Koran86.news

Editor  : Sin