Bendera Terbalik, Hobi Malaysia Bikin Gaduh Indonesia?

JAKARTA (Koran86.news) – Kasus terbaliknya bendera Indonesia di katalog ajang bergengsi Sea Games, membuat rakyat Indonesia geram. Perbuatan kurangajar itu harus diambil langkah hukum internasional, jika dibiarkan bakal muncul lagi penghinaan dari negeri jiran tersebut.

Demikian ditegaskan beberapa warga Jakarta yang sempat ditemui Jurnalis Koran86.news, menanggapi insiden terbaliknya lambang negara Indonesia yang dilakukan oleh panitia Sea Games 2017 di Malaysia.

Warga menuding, insiden itu dicurigai ada unsur kesengajaan. Kenapa? Sebab, sebelum katalog itu dicetak, tentunya harus melalui penyeleksian para pihak. Termasuk kategori bendera masing-masing negara Asean selaku peserta di pesta olahraga bergengsi tersebut. Tidak mungkin setelah desain selesai dibuat lantas dicetak, tanpa lebih dahulu diteliti.

Bagi warga Jakarta, masalah seperti itu, yakni memperdaya Indonesia oleh oknum-oknum warga Malaysia bukan hal baru. Kegaduhan di negeri ini sebagian pelakunya adalah warga negara jiran tersebut.

“Masih ingat kan dua teroris asal Malaysia, DR Azhari dan Nurdin M Top. Mereka berhasil memporakporandakan ekonomi Indonesia lewat teror, meledekan banyak bangunan dan merekrut anak muda negeri ini dijadikan teroris,” papar Ridwan warga Jakarta Pusat, Sabtu (19/8/2017).

Menurut dia, agak aneh kenapa dua teroris itu melancarkan aksi terornya di Indonesia. Bukan di Malaysia. Padahal negerinya sendiri jauh lebih munafik. Mestinya Azhari dan Nurdin itu lebih dahulu meluluhlantakan Kuala Lumpur, ketimbang Jakarta dan daerah lainnya di negeri ini.

Diingatkan Ridwan, aksi dua teroris Malaysia itu patut dicurigai bukan berlatarbelagang agama, tapi mereka bisa diduga merupakan intelejen penghancur yang diutus untuk membuat gaduh Indonesia, sehingga perekenomian terganggu.

Begitu juga, lanjut dia, ada tokoh ulama (namanya keberatan disebut) yang pernah mengambil keserjanaannya di Malaysia, eh bikin gaduh bangsa ini. Beberapa kali ceramahnya menimbulkan gesekan atar agama di Indonesia.

“Saya sebagai warga negara yang masih sadar pikirannya, boleh dong mencurigai sosok itu. Kenapa selepas kuliah di negeri jiran selalu bikin kegaduhan masyarakat. Anehnya, dia malah dielu-elukan banyak orang, padahal dari mulutnnya ke luar kebencian terhadap umat agama di luar Islam. Mestinya pemerintah menyelidiki tokoh ini,” saran Ridwan.

Lebih jauh dia menyatakan, seperti diketahui Malaysia negara yang menjalankan syariah Islam, tapi perjudian di Genting Highland dihalalkan. Bahkan kabarnya prostitusi menjadi bagian yang juga dibiarkan di lokasi tersebut.

“Di dalam lokasi perjudian Genting pasti dijual minuman keras dan makanan haram. Artinya, bertolak belakang dengan syariah Islam. Itu kan sudah nggak benar. Yang benar itu di Aceh, syariah dijalankan atas dasar hukum Islam. Tak ada perjudian, pelacuran dan minuman keras. Mestinya DR Azhari dan Nurdin M Top mengebom Genting, kenapa gedung-gedung di Jakarta dan Bali yang jadi sasaran?” kata Ridwan.

Sementara itu, menurut Yanto, warga Pademangan, Jakarta Utara, pasokan besar Narkoba dari Malaysia akhir-akhir ini patut dicurigai bagian dari niatan untuk menghancurkan bangsa negeri ini. Bagaimana mungkin Malaysia yang ketat terhadap peredaran Narkoba malah memasok ke Indonesia.

“Yang ditangkap di sini umumnya warga Malaysia keturunan China. Saya curiga, mereka itu adalah suruhan, oknum upahan. Ada skenario besar penghancuran generasi muda lewat barang haram itu. Pemerintah mesti mengkajinya lebih jauh,” uangkapnya beri saran.

Lain pula gambaran Rosi, warga Jakarta Pusat, tentang Malaysia. Dia lebih mengistilahkan orang-orang Malaysia gemar menjiplak, plagiatot. Mengakui karya negara lain sebagai karyanya. Ada 10 budaya/karya senia Indonesia diklaim sebagai milik Malaysia: Batik, Reog Ponorogo, Lagu Rasa Sayange, Wayang Kulit, Kuda Luping, Rendang Padang, Keris, Angklung, Tari Pendet dan Tari Piring, dan Gamelan Jawa.

“Hanya orang gila yang sengaja mengakui milik orang menjadi miliknya. Pengakuan inipun sempat bikin gaduh bangsa Indonesia pasca dua teroris itu dikirim ke neraka oleh polisi anti teror kita,” ungkap Rosi.

Dari hasil perbincangan dengan para warga di atas, dapat disimpulkan bahwa negeri jiran Malaysia nampaknya ingin Indonesia dalam suasana kacau, penuh kegaduhan. Bangsa negeri jiran itu tak ingin negeri ini tentram. Kekacauan demi kekacuan terus dilakukan.

Tapi apakah kecurigaan dan kalimat bernada tudingan para warga di atas benar adanya? Memang perlu kajian menyeluruh oleh pemerintah Indonesia. Dan bisa jadi, aksi teror DR Azhari dan Nurdin M Top serta tindakan lainnya yang dilakukan oknum-oknum warga Malaysia, tidak diketahui oleh pemerintah negeri jiran itu sendiri. Siapa tahu mungkin.

Liputan: Tim Jurnalis Koran86

Editor  : H. Sinano Esha