Advokat Muda Pewaris Organisasi Terpecah

Anak muda ini, Ardian Rizaldi, salah satu advokat  negeri ini berhasil merenda sukses di usia muda. Baru satu dasa warsa lebih profesinya ditekuni, hampir empatpuluh perkara yang melibatkan perusahaan raksasa ditangani.

Berbagai jabatan di organisasi advokat pun sudah dipegangnya sejak 2010, baik di Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi), Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) dan Asosiasi Korator dan Pengurus Indonesia (Akpi). Jabatan yang masih ditekuni adalah Sekretaris Bidang Pelantikan, Pengangkatan, dan Pengambilan Sumpah, Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Peradi.

Keberhasilannya itu tak lepas dari gemblengan sang bapak, Julius Rizaldi, advokat senior yang pernah beken di era 1980-2000an.

Sebagai generasi muda, Ardian ingin terus menggali profesi yang dianggap panggilan jiwanya, penuh tantangan sekaligus kaya seni berperkara. Namun dia menyesali organisasi advokat tak ada yang utuh. Umumnya terbelah.

Bagaimana pandangannya tentang advokat, dan organisasi yang menaungi profesi tersebut, di bawah ini petikan wawancaranya dengan H. Sinano Esha dari Koran86.

 

Anda ini latah ya, orangtua sukses jadi advokat, terus ikut-ikutan?

Nggak juga. Justru saya merasa  jadi advokat panggilan. Bukan latah. Awalnya memang melihat kerja Ayah. Penuh tantangan, tapi mengasyikan. Malah semula saya pikir pekerjaan gampang. Semua orang bisa melakukan.

Tapi, begitu nyemplung, ternyata nggak gampang. Profesi ini bukan semata-mata harus hafal dalil hukum dan perundang-undangan, ada seninya. Yakni seni beracara di pengadilan.

Dalam dunia advokat, sebenarnya mencari celah—bukan celah negatif ya, tapi celah tentang ilmu hukum yang kemudian terbentuk menjadi dalil. Sebab, ketika bersidang di pengadilan, akan terjadi jawab menjawab di antara mereka yang bersidang. Masing-masing memiliki dalil-dalil yang berbeda tentunya. Imi yang menarik.

Bicara soal keadilan, kenapa Anda tidak pilih jadi polisi saja?

Sama saja kan. Sama-sama penegak hukum. Seperti tadi saya katakan, menjadi advokat ada seninya di dalam beracara di pengadilan. Itu yang saya rasakan ketika Ayah bersidang di pengadilan. Dan sekarang, saya merasakan sendiri, bahwa beracara di persidangan ada seninya.

Sebagai seniman peradilan, ada tiga jenis seni yang mesti diterapkan seorang advokat. Yaitu, seni beracara, seni meyakinkan klien, dan seni mencari solusi di luar pengadilan (mediasi). Seni terakhir biasanya disukai klien, perkara bisa diselesaikan di luar pengadilan. Dan menjadikan pengadilan opsi terakhir.

Prinsip di kantor kami, jika bisa berdamai di luar sidang kenapa mesti ke pengadilan. Perang dipersidangan, kalah jadi abu, menang jadi arang. Waktu terbuang, duit juga melayang, pikiran pun bisa stres. Belum lagi ongkos persidangan tidak murah. Cuma menerapkan seni terakhir ini susah-susah gampang, karena menghadapi pihak yang dirugikan. Orang yang penuh amarah.

Apakah seni beracara dibutuhkan kepiawaian? Anda sudah bersiap diri sebelum benar-benar menggeluti profesi ini?

Karena merasa panggilan, siap nggak siap, ya harus siap. Saya memang sudah paham betul dunia yang satu ini. Belajar pengalaman dari orangtua. Seiring perjalanan waktu, terkait juga jam terbang, saya merasakan suatu kenikmatan memainkan seni advokat. Baik di persidangan maupun di luar persidangan. Belum lagi menambah isi otak dengan ilmu-ilmu baru yang saya dapat.

Pastinya, dunia advokat berbeda dengan dunia dagang. Melulu tidak monoton. Kinerja yang penuh varian hidup. Hal ini lantaran setiap perkara yang ditangani  pasti berbeda. Tidak sama. Meski kasusnya terbilang sama, tapi pemikiran orang-orangnya berlainan. Namun, dalam konteks ini, advokat dituntut harus pandai, cepat tanggap, menguasai psikologis, dan piawai untuk urusan skil.

Saat ini jumlah perkara tak seramai dulu, apakah pekerjaan ini masih menjanjikan sekaligus menguntungkan?

Jujur saja, pekerjaan ini masih menjanjikan. Sepanjang advokat itu menerapkan disiplin yang tinggi dan menjaga etika profesi.

Jika bicara soal menguntungkan atau tidak, itu relatif. Sebab, menguntungkan itu mencari keuntungan sebanyak-banyaknya seperti perdagangan. Kalau untuk urusan materi, memang menjanjikan. Tapi jika ingin mencari keuntungan murni sebaiknya jangan jadi advokat.

Seorang advokat harus memilah, mana klien yang mampu atau kurang mampu. Apalagi dalam ketentuan organisasi, serta perundang-undangan, advokat itu harus membantu masyarakat yang kurang mampu. Nah, jadi nggak mungkin lah advokat itu murni cari keuntungan di dalam pekerjaan ini.

Perbandingan jumlah advokat dengan perkara masyarakat tidak sebanding. Menurut Anda bagaimana?

Iya, jumlah perkara sekarang ini lebih sedikit dibandingkan lima-sepuluh tahun lalu. Sementara anak muda yang ingin jadi advokat terus meningkat. Di Peradi tercatat, setiap tahun dilantik antara 2.000 sampai 3.000 sarjana hukum dari seluruh Indonesia yang lulus pendidikan khusus profesi advokat (PKPA).

Dengan begitu, persaingan pekerjaan di dunia advokat cukup ketat. Rahasia advokat sukses adalah etika, dapat mengatur dirinya dengan baik, bisa menjaga dan memanage klien dengan baik. Dan yang tak bisa terelakan, jadikan kasus klien sebagai persoalan advokat itu sendiri. Dengan begitu, klien akan memberikan kepercayaan penuh kepada advokat.

Selama advokat jujur, bekerja dengan benar, klien pasti tidak mungkin meninggalkannya. Tidak akan ke mana-mana. Ini soal kepercayaan. Profesi ini dituntut klien harus trust. Harus punya kepercayaan tinggi. Nah, untuk menjaga trust penuh bagi klien, itu tidak gampang. Kembali kepada diri advokat itu sendiri.

Bagaimana pandangan Anda tentang Advokat beretika profesi buruk? Dan Mereka yang melakukan gratifikasi?

Yang melenceng sebaiknya dipecat. Oknum advokat macam begitu, banyak dikeluhkan masyarakat kepada saya. Kenapa? Ini terkait etika buruk yang dihadapi klien. Akhirnya menjadi isu di tengah masyarakat. Peradi tidak mentolerir anggotanya seperti itu.

Soal gratifikasi, atau suap kepada pihak pengadilan maupun aparat hukum lainnya, itu merupakan perbuatan tidak terpuji. Advokat tidak dibenarkan melakukan tindakan itu. Jika ada, itu oknum. Advokat merangkap makelar kasus (Markus).

Sebagai generasi muda advokat, saya sangat menyesali kelakuan macam itu. Apalagi oknum pelakunya adalah advokat senior. Sangat tidak mendidik. Contoh buruk bagi advokat muda. Mengajari pelanggaran untuk mendapat kemenangan perkara lewat jalan pintas. Itu nggak benar.

Advokat profesi muliai, lebih elegan berargumentasi ilmu hukum di pengadilan ketimbang melakukan gratifikasi. Memenangan klien bukan cara lewat tindakan buruk, tapi lewat adu ilmu di persidangan. Klien pun perlu diingatkan, bahwa menggunakan jasa advokat bukan untuk urusan sogok-menyogok, tapi membela dengan cara yang benar.

Jika yakin klien benar, tidak melanggar hukum, ya nggak ada salah minta fee besar daripada melacurkan profesi jadi Markus. Dengan begitu, nama akan bersih dan bakal disukai masyarakat luas.

Markus itu, kerja gampang  tapi dapat untung gede. Kalau sudah menyandang advokat, ya janganlah berpraktik Markus. Kalau mau jadi Markus, ya jangan bersusah payah kuliah hukum. Kerja advokat adalah adu ilmu dalam menangani perkara, bukan menyuap untuk menangkan perkara. Nggak gampang mendapat predikat advokat, prosesnya panjang.

Buat rekan-rekan, mari kita jaga profesi yang mulia ini, jangan menghina diri kita sendiri untuk berpratik sebagai Markus.

Bagaimana dengan organisasi advokat yang terpecah?

Saya sesali. Sungguh. Harapan saya, Peradi yang terpecah tiga untuk kembali bersatu. Sayang kan jika kondisi amburadul seperti sekarang ini dibiarkan berlarut. Apalagi jika menilik sejarah pembentukan Peradi tidak seperti membalikan telapak tangan. Penuh perjuangan.

Sebagai advokat muda, saya berharap masing-masing kubu logowo. Jangan mencari siapa yang salah, dan siapa yang benar. Para senior-senior advokat semestinya memberi contoh yang baik bagi yang muda-muda. Jangan jadikan advokat muda mewarisi keantipatian. Alangkah bijaknya jika advokat yang berseteru berkonsiliasi demi keutuhan organisasi profesi.

Seperti kita ketahui, tidak ada satupun organisasi advokat di negeri ini utuh. Umumnya terpecah. Dari satu organisasi, terbelah menjadi dua bahkan tiga. Termasuk  organisasi wadah tunggal. Semula terbentuk Peradi, kemudian terpecah dan muncul Kongres Advokat Indonesia (KAI). Inipun nggak bertahan lama. Peradi terbelah tiga, begitu juga KAI.

Amanah UU Advokat, organisasi profesi pengacara harus tunggal. Menurut saya, pembentukan awal Peradi itu sedah benar. Yaitu sebagai wadah tunggal dari peleburan beberapa organisasi yang ada. Secara hukum, Peradi sudah memenuhi ketentuan UU Advokat.

Sayangnya, di tengah jalan Peradi terpecah dua. Sebagian advokat mendirikan KAI. Khususnya mereka para senior. Apapun alasannya, tindakan memecah organisasi adalah perbuatan tercela. Apalagi sebelumnya sudah bergabung di Peradi. Ini yang membuat advokat muda, seperti saya, jadi kehilangan pegangan. Ke mana kami harus mengarah.

Mestinya, jika sudah melebur jadi satu untuk membuat wadah tunggal, atribut lama ditanggalkan. Ego disingkirkan. Jika terus menjadi bayang-bayang, buntutnya ya seperti sekarang ini. Peradi terpecah tiga. Akhirnya, kami yang muda-muda, yang semula bersahabat di dalam wadah tunggal, terpecah. Bahkan saling bermusuhan karena berbeda maktab. Ini yang saya sesali.