Sang Sangka Raksasa Di atas Bengawan Solo

Bojonegoro (Koran86.news), Dalam rangka menyambut HUT Ke-72 Republik Indonesia, Bendera raksasa Merah-Putih berbobot 30 kilogram dengan panjang 45 meter dan lebar 17 meter dibentangkan warga Ledok Wetan Kelurahan, Kecamatan kota Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, di atas sungai Bengawan Solo pada 17 Agustus 2017.

Lambang negara Indonesia tersebut oleh warga masyarakat yang menempati hunian di sepanjang sungai Bengawan solo rencananya akan dibentang selama Agustus2017. Hal itu dilakukan dalam rangka menyambut proklamasi kemerdekaan negeri ini.

“Bendera ini kami jahit sendiri. Harga bahannya seharga dua juta rupiah,” kata Ketua RW 21, Ghufron CF (42), kepada jurnalis Koran 86 di lokasi pemasangan bendera, Kamis (17/8/2017).

Berkaitan dengan persoalan klasik sungai, Kasminto B.s, selaku Kepala Kelurahan Ledok wetan, mengajak warga untuk menjadikan lingkungan di sungai terpanjang di Pulau Jawa ini sebagai panorama alam yang mengagumkan.

Dia mengingatkan, jangan sekali-kali menjadikan alam Indonesia sebagai musuh. “Sudah saatnya kita menjaga keseimbangan alam, khususnya di kabupaten Bojonegoro. Bendera terpanjang ini melambangkan masyarakat yang peduli lingkungan dan peduli Sungai, yang bersih serta menguntungkan secara ekonomi, baik makro maupun mikro dalam hal pertanian dan pertambangan ” paparnya.

Pencentrangan bendera raksasa di atas sungai tersebut menjadi momen bagi warga dusun di dua kecamatan, yaitu Ledok Wetan di Kecamatan Kota serta Banjarsari di Kecamatan Trucuk. Para warga begitu hikmat mengikuti upacara detik-detik proklamasi 2017 dibawah terik marahari di hamparan sungai Bengawan solo dengan khidmah .

“Bendera raksasa ini menandakan bahwa ini merupakan bentuk tanggung jawab untuk menjaga NKRI sebagai harga mati. Sudah saatnya kita menjadi negara besar untuk melawan pemecah belah bangsa. Bahaya laten tersebut mesti kita waspadai bersama,” Ghufron mengingatkan.

Dia bersama warga Ledok Wetan dan Banjarsari berharap, pemasangan bendera ukuran akbar tersebut dapat mengingatkan kepada warga lainnya agar tidak mengotori lingkungan di sekitar aliran sungai Bengawan Solo

“Kami ingin jadi sahabat dengan alam. Jangan sampai alam malah dimusuhi, dirusak, kotori oleh tangan-tangan jahil manusia,” tambah Kusminto Bawono.

Pemasangan bendera berjarak 50 meter dari bibir sungai menandakan aliran air tersebut belum sepenuhnya merdeka. Hal itu dapat dilihat dari kondisi Bengawan Solo yang semakin hari kondisinya mengkhawatirkan. Alamnya tidak dijaga oleh manusia.

“Kami menegaskan, para pengusaha pabrik sebaiknya jangan membuang limbah industri ke sungai. Begitu juga masyarakat yang bermukim di bantaran sungai, agar tidak membuang sampah di sungai Bengawan solo,” saran Sarmin (43), warga setempat.

Bendera berukuran raksasa itu dibentangkan dengan menggunakan dua sampan (perahu) di ke dua sisi sungai. Dan mana kala angin berhembus kencang, bendera berkibar kencang dan menyibak air yang mengalir deras di bawahnya.

Kasminto Bawono selaku lurah Ledok wetan berharap, semua pihak dapat saling menjaga lingkungan Bengawan Solo. “Harapan kami, seluruh elemen masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan. Dan alam akan bersahabat jika kitapun jadi sahabatnya. Alam akan menjadi musuh apabila kita memusuhinya,” pungkasnya dalam memberikan sambutan selaku inspektur upacara .

Liputan: Jurnalis Koran86.news Bond

Editor  : H. Sinano Esha